Senin, 24 Desember 2012

eksperimen bisu (la tahzan)

perasaan takut jatuh cinta yang selalu muncul pada diriku. apalagi cinta yang bertepuk sebelah tangan. tapi sungguh aku sangat heran, mengapa aku bisa mencintainya dengan rasa tulus dan mendalam.
ku akui, aku memang berkomitmen pada kondisi tertentu.

ah, betapa sering aku merasa malu dalam setiap bergaul. dalam setiap pergaulan, aku selalu berusaha memalingkan pandangan orang agar melihat diriku dan memahami perasaan - perasaanku.

aku merasa sangat hina sekali. inilah yang kemudian menyebabkan diriku berusaha menjaga kehormatan diri juga sifat feminisme dalam bergaul.

sebagaimana aku juga merasa khawatir, jika pandanganku yang tampak bingung juga debaran jantungku seolah bekejaran dapat mengganggu perasaanku dihadapannya. sehingga aku akan tampak dalam penampilan sosok gadis yang lemah. padahal sikap sebaliknya yang ingin aku tampilkan dihadapannya. terlebih lagi ketika aku bergaul dengan orang lain. aku ingin dalam setiap pergaulanku bisa dipandang sebagai pergaulan yang baik, terhormat dan tampak sosok yang teguh pendirian.

aku telah memiliki komitmen diri untuk selalu bertanya dengan disertai rasa penuh tanggung jawab. apa yang harus aku lakukan? apakah aku akan selalu terus menerus menyerah pada perasaanku sendiri? perasaan yang selalu mempengaruhi diriku dalam setiap pergaulan, sehingga membuat aku tidak bisa stabil dan selalu terlambat dalam masalah pengetahuan.

akhirnya, jawaban atas pertanyaaan tersebut baru aku temukan karena kebodohanku. tidak. dan aku terus membiasakan untuk berkata "tidak".

aku haturkan rasa syukurku kepada Allah. semua ini telah menjadi sebuah eksperimen bisu yang tidak mengganggu dalam hatiku. dan akupun tidak terlalu berlebihan dalam berekspresi yang dapat menghantarkan diriku pada sebuah penyesalan yang dalam. terlebih lagi setelah aku mengambil keputusan sejak beberapa waktu lalu. bahkan aku sendiri sudah melaksanakan keputusan itu dengan tekad yang sangan bulat. aku tidak akan menjadi sosok yang lemah, dan aku tidak akan menarik kembali keputusanku.

walau demikian, aku masih tetap berpegang teguh pada sifat menjaga kesucian diri dan keluhuran budi yang menghiasi diriku. dua sifat ini yang telah menjadi sandaranku. sifat sifat yang telah memberi kekuatan padaku dalam setiap gerak melawan segala kelemahan diri, dan melawan segala macam pikiran yang sering menggoda diriku, agar aku membuang jauh sifat sifat itu dari perasaanku yang selalu bergejolak.

sekarang aku sudah bisa untuk mengatakan dengan segenap perasaan bahagia dan bangga. "sungguh, aku tidak akan merasa malu untuk berkata terus terang, bahwa aku lebih senang pada kehormatanku, kebesaranku, kemuliaaanku, dan masa depan pendidikanku".

aku sangat yakin bahwa semua itu lebih berharga. dan seorang gadis seperti diriku tidak akan mampu untuk menyia-nyiakan semua itu hanya karna mengikuti segala dorongan perasaan. karena pada akhirnya, kebenaran tetaplah kebenaran.

hingga pada suatu hari nanti, seorang pemuda tentu akan datang kepadaku dengan izin Allah. dia akan menghormatiku karna keistimewaan akhlak mulia dan pengetahuan yang aku miliki. selanjutnya dia akan datang ke rumah orang tuaku dengan penuh rasa penghormatan yang menjadi hakku.

bersamanya nanti aku akan mendapatkan segala cinta yang pernah menjadi impianku dan impian setiap gadis. ^^


1 komentar:

  1. Asyeek.semoga yang bersangkutan juga membaca isi hati nya mbak pifin lewat blog ini!

    BalasHapus