Minggu, 16 September 2012

Oleh : Larassati Aulia Maghfiroh Kelas : XI IPA A



Saat ini aku bersekolah di SMAN 2 Benai . seperti biasa, dimanapun sekolahnya akan ada MOS yaitu masa orientasi siswa. dimana selalu dijadikan ajang bagi para senior untuk mengerjai junior-junior barunya.  Namun aku mengambil hal positif dari MOS ini, yaitu aku pasti akan berkenalan dengan banyak teman dari berbagai SMP/MTS yang nantinya akan menjadi temanku selama 3 tahun di SMAN 2 Benai. Aku anak kedua dari 4 bersaudara, aku bisa dibilang berbeda dari saudara-saudaraku. Kakak pertamaku, mbak pifin adalah anak yang aktif, supel dan cendrung mudah beradaptasi dan yang perlu aku contoh adalah dia tidak pernah malu untuk melakukan apapun selama itu tidak salah. Adikku, dik tari juga adalah anak yang aktif, mempunyai banyak teman dan hatinya memang sedikit sensitif , ini sama sepertiku. Si bungsu adam sepertinya meniru kakak pertamaku, mempunyai banyak teman dan semua orang mencintainya. Dan aku, adalah seorang anak yang pemalu, penurut dan  cendrung pasif. Oleh karena itu jika MOS merupakan kegiatan yang paling dibenci teman-temanku, maka aku sangat menyukai ajang ini karena tidak perlu berkenalan mencari teman tetapi kakak panitia sudah menyediakan seabreg game yang intinya bahwa kami harus saling kenal. Jadi, ini sangat mempermudah untuk aku mengenal banyak teman. Dan dari situ jugalah aku mulai beradaptasi dengan lingkungan sekolah baruku.

Sekarang aku sudah duduk dikelas XI IPA A, dan ketika duduk dikelas X nilai ujianku cukup lumayan menurut aku. Alhamdulillah menjadi juara 1 dikelas, tidak apalah tidak menjadi juara pararel. Tetapi, di semester 2 nilai-nilaiku justru menurun meski tidak terlalu jauh aku menjadi juara 2. Meski begitu aku tetap bersyukur dan berusaha untuk meningkatkan prestasiku. Pastinya dengan belajar yang rajin dan berdoa kepada Allah. Yah, aku akan terus belajar sekuat dan semampuku agar masa depanku cerah. Tetapi pengalaman yang aku ceritakan nanti bukan tentang hal ini. Aku akan bercerita tentang ibuku. Ibuku yang hebat, ibuku yang kuat tetapi harus menerima dengan  lapang apa yang diberi Allah. Aku akan menceritakan ibuku yang sedang sakit. Almarhum kakek adalah penderita diabetes, otomatis keturunannya berpotensi untuk menderita penyakit diabetes juga. Dari 7 anak keturunan kakekku ibulah yang menjadi orang terpilih.

Pada awalnya ibu menderita penyakit diabetes dan asamurat. Banyak orang yang mengatakan diabetes itu tidak disembuhkan tetapi bagaimana bisa mengendalikannya. Sudah berbagai cara yang dilakukan oleh ibu agar diabetes ini tidak meraja lela. Tapi apa boleh dikata. Sudah biasa penderita diabetes mengalami rabun pada mata atau sering disebut katarak. Ibu sudah berkonsultasi pada beberapa dokter mata dan sudah 2 kali ganti kacamata. Dan bukan pada dokter spesialis mata saja, ibu juga berkonsultasi pada dokter cina yang dibawa oleh bapak kerumah. Dan pada akhirnya terdapat satu keputusan ibu mendapat rujukan dari RSUD Taluk untuk menjalani pengobatan lebih lanjut di Padang atau Pekanbaru. Aku merasa ada sedikit yang aneh, dulu mbah putri/nenekku ketika menderita katarak opersi di RSUD Taluk saja bisa. Akan tetapi aku tetap berbaik sangka, ibuku akan baik-baik saja. Akhirnya bapak memutuskan untuk membawa ibu ke Padang dan memeriksakannya disana. Aku masih ingat sekali ketika itu pembagian rapot semester 1 dan aku mendapat juara 1. Tapi sayang kebahagiaan itu belum bisa aku bagi bersama ibu, karena ibu baru mendengar kabar bahagia itu setelah 13 hari di Rumah Sakit Padang. Sedih rasanya, dan aku juga masih ingat bahwa itu juga bertepatan dengan perayaan hari ibu, 22 Desember 2011. Padahal aku ingin memberikan raport ini sebagai hadiah hari ibu. Tapi perasaanku semakin tidak tenang, ada yang aneh, ada sesuatu yang lebih buruk lagi. Setelah 2 hari itu, bapak menelpon. Ibu tidak terkena katarak melainkan ada tumor di kepalanya (tumor otak) dan itu mengenai saraf mata yang menyebabkan ibu rabun, hidung atau penciuman dan telinga atau pendengarannya. Pantas saja, akhir-akhir ini ibu sering tidak peka baik pendengaran, penciuman ataupun penglihatannya. Dana yang dibawa bapak hanya Rp 15.000.000, dan ini cukup untuk biaya operasi katarak. Ternyata semuanya jauh dari yang dibayangkan. Dan dana yang dibutuhkan jauh lebih besar dari pada itu. Alhamdulillah bapak dan ibu dikenal sebagai orang yang baik dan suka membantu, jadi ketika membutuhkan semua orang langsung mau membantu kesulitan yang dihadapi. Akhirnya berkat bantuan teman-teman kerja bapak, tetangga, saudara baik yang dekat maupun yang jauh, termasuk juga dari sekolahku tercinta ini dan sedikit potongan dari kartu ASKES semua kesulitan dana bisa dihadapi. Aku berkesempatan menjenguknya, walaupun hanya 1 hari. Aku merasa lemas, tidak bergairah hidup, separuh semangat hidupku sepertinya telah hilang mendengar semua ini. Sekarang aku adalah anak tertua dirumah. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain berdoa, berdoa dan berdoa untuk kesehatan ibu. Ternyata ada kisah tersendiri yang ibu alami, ibu trauma operasi lagi dan sekarang ibu rawat jalan dirumah. Ibu menjalani pengobatan terapi 2 kali seminggu. Memang berat awalnya, merawat ibu dan mengasuh adam. Apalagi kalau bapak sudah mendapatkan proyek dan kerja jauh dari rumah yaitu di pulau Rupat, sebelah Dumai, harus menyebrang. Mbak Pifin dan dek Tari jelas belum bisa ku andalkan dalam hal ini, mereka sekolah jauh. Tapi, tidak lagi sekarang,mungkin karna sudah terbiasa. Pendengaran dan penciuman ibu sudah kembali seperti dulu. Tetapi belum pada matanya. Semoga Allah memberi kesembuhan pada ibu. Waktu memang sangat berarti bagiku, aku harus pintar-pintar membagi waktu. Kalau terlalu capek, aku susah tidur karna sesak nafas. Aku selalu yakin bahwa Allah memberi cobaan pada hambanya tidak akan melampaui batas kemampuan hambaNya. Dan semua masalah pasti ada hikmahnya. Yang harus kita lakukan sekarng ini adalah berusaha dan berdoa.

**tugas mengarangmu sangat bagus dek, semoga gurumu kasih nilai yang bagus juga ya :D. maaf mba post ke blog. **laras, adikku yang hebat! guru yang tidak bisa aku temui dibelahan dunia manapun. ketegaran yang terlukis diwajahnya semakin menambah karakter kecerdasannya. doakan mba cepet lulus, biar bisa gantian rawat ibu dan Allah kasi kesehatan ke ibu**

3 komentar:

  1. mas g terasa menitikkan air mata pas baca ini, mas bca d tmpt kerja, semoga g cuma dosa yg d gugurkan tuhan karna sabar, tapi jug kebahagiaan besar yg akan terus mengalir.

    BalasHapus
  2. pifin ku sayang .....
    aku tau perasaan saat mu ini seperti apa, kamu pasti kuat dan sabar ngejalanin semuanya, Allah tidak akan memberi cobaan kepada hambaNYA diluar batas kemampuan hambaNYA
    Doakan selalu ibu tercinta
    cintai, sayangi, patuhi selagi beliau masih ada disekitar mu
    jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari

    Semoga ibu cepet sembuh yaaa
    dan keluarga selalu diberi ketabahan dan kekuatan

    BalasHapus
  3. ومن يتق الله يجعل له مخرجا و يرزقه من حيث لا يحتسب
    semangad terus yo !!
    birul walidain, taat sama orang tua itu amalan baik yang nggak ada gantinya...
    taati, bersikap lembut sama mereka, dan jangan lupa doakan dan support terus mereka...
    Semoga Allah ngasih kekuatan, kesabaran, dan kesembuhan ya... :-D

    BalasHapus